Setiap desa memiliki jiwa dan kisahnya sendiri, tak terkecuali Desa Banaran yang terletak di Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun. Jauh sebelum era modern menyentuh tanah ini, sebuah narasi tentang pertemuan, perjuangan, dan filosofi "kebenaran" telah tertanam kuat sebagai pondasi desa.
Berdasarkan cerita tutur yang digali dari para sesepuh dan masyarakat, sejarah Desa Banaran dapat ditarik mundur hingga jauh ke masa lampau, diperkirakan sebelum tahun 1300 Masehi.
Pertemuan Dua Pendekar dan Lahirnya Sebuah Nama
Pada mulanya, wilayah yang kini dikenal sebagai Banaran hanyalah sebuah permukiman tanpa nama yang dihuni oleh penduduk asli. Titik balik sejarah terjadi sekitar tahun 1300 Masehi, ketika seorang pelarian perang sekaligus prajurit dari Tuban bernama Surogati (juga dikenal sebagai Kinolo) tiba di wilayah ini. Mencari perlindungan dan kedamaian, Surogati memutuskan untuk menetap.
Tak lama berselang, takdir mempertemukan Surogati dengan seorang pengembara lain bernama Singo Diwongso, yang berasal dari wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Babadan (Kecamatan Pangkur, Ngawi).
Pertemuan kedua tokoh ini menjadi momen sakral. Dalam perjumpaan tersebut, keduanya saling berdiskusi dan masing-masing "menyatakan kebenaran". Dari peristiwa filosofis inilah nama desa ini lahir. Kata "Kebenaran" diserap dan diabadikan menjadi "BANARAN", sebagai penanda tempat bertemunya dua tokoh yang saling memegang teguh prinsip kebenaran.
Sang Pembabat Alas dan Jejak Kepemimpinan
Setelah nama desa ditetapkan, Surogati mengambil peran sebagai "pembabat alas" atau perintis pembangunan Desa Banaran. Garis keturunannya kemudian melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan desa tersebut.
Namun, Surogati tidak menghabiskan sisa hidupnya di Banaran. Ia melanjutkan perjalanan spiritualnya menuju suatu tempat yang kini dikenal sebagai Plumpung (Desa Glonggong), di mana ia menetap hingga akhir hayatnya dan dimakamkan di sana. Sementara itu, sahabat seperjuangannya, Singo Diwongso, melanjutkan misinya dengan membangun pemerintahan di wilayah tetangga, yakni Desa Babadan, Ngawi.
Warisan Kepemimpinan Lintas Abad
Sejarah pemerintahan Desa Banaran tercatat rapi, terutama setelah periode Surogati dan memasuki abad ke-19. Regenerasi kepemimpinan di desa ini menunjukkan stabilitas dan kesinambungan tradisi.
Berikut adalah jejak para pemimpin (Kepala Desa) yang telah mengabdikan diri untuk Desa Banaran dari masa kolonial hingga era modern:
-
Era Kolonial Belanda (Abad 19 - Awal Abad 20):
-
1831 - 1844: Kariyo Dongso
-
1845 - 1885: Tro Dongso
-
1886 - 1920: Tro Medjo
-
-
Era Pergerakan & Kemerdekaan:
-
1921 - 1927: Karijo Sentono
-
1928 - 1961: Tjitro Sentono (Menjabat cukup lama melintasi masa kemerdekaan)
-
-
Era Orde Lama & Orde Baru:
-
1963 - 1965: Hadi Sukarno
-
1967 - 1990: Somo Mihardjo (Masa jabatan terpanjang di era modern)
-
1990 - 1998: Haryono
-
-
Era Reformasi hingga Sekarang:
-
1998 - 2008: Pardi
-
2009 - Sekarang: Hariyono (Menjabat selama tiga periode berturut-turut: 2009-2015, 2016-2021, dan 2022-Sekarang).
-
Desa Banaran bukan sekadar nama administratif. Ia adalah simbol dari sebuah pertemuan yang didasari oleh "Kebenaran". Dari tangan Surogati hingga kepemimpinan Hariyono saat ini, semangat untuk menjaga desa tetap "benar" dan sejahtera terus diwariskan dari generasi ke generasi.